POLITIK BACKPACKER GATOT

0
11
Panglima TNI Gatot Nurmantyo.(Foto: Istimewa)

Belakangan Gatot dituding melakukan politik praktis. Yang dimaksud dengan berpolitik praktis itu adalah kedekatannya dengan ulama, kalangan pesantren, gerakan yang mengatasnamakan “Islam” serta rajinnya Gatot berkeliling kampus. Yang paling baru, ia kena tuduh membangkitkan trauma komunisme lewat instruksi internal pemutaran film “Pengkhianatan G30S/PKI” dan omongannya tentang adanya institusi selain TNI dan Polri yang memasukkan senjata standar militer serta “jenderal-jenderal yang berpolitik amoral”.

Atas semua aksi tadi Gatot dituding sedang menanam suara untuk 2019. Karena terindikasi melakukan politik praktis Gatot harus diganti. Opini itu kebanyakan berasal dari kalangan politikus dan aktivis. Sebaliknya tak sedikit yang membela Gatot dengan menyatakan apa yang dilakukannya bukan politik praktis, melainkan politik negara.

Letnan Jenderal (Purn) Slamet Supriyadi

“Gatot Justru Mengamankan Istana”

Lelaki kelahiran Purwokerto ini merupakan tentara veteran dengan pangkat terakhir bintang tiga sebagai Komandan Komando Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI AD. Ia merupakan lulusan Akabri tahun 1970, satu angkatan dengan Luhut Binsar Panjaitan yang juga dari kesatuan Infanteri. Slamet pernah pula menjabat Kepala Pusat Penerangan ABRI dan Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi serta pernah menjadi anggota DPR dan MPR hingga 2003 dari Fraksi TNI.

Dengan usia dan angkatannya di akademi kemiliteran ia jelas senior dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Lalu bagaimana tanggapannya atas sikap Gatot yang oleh sebagian orang telah berpolitik praktis karena beberapa kejadian terkesan berseberangan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo, berikut petikan wawancara KEADILAN dengan Slamet di rumahnya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here